Oleh: Jabal Ali Husin Sab
Istilah
worldview berasal dari istilah bahasa Jerman Weltanschauung. Dalam kamus Merriam-Webster diartikan sebagai “a comprehensive conception or apprehension
of the world especially from a specific standpoint.” Dalam Oxford
Dictionaries diartikan sebagai “a
particular philosophy or view of life.” Secara etmologi, Weltanschauung berasal dari kata dalam
bahasa Jerman: welt yang berarti
dunia dan Anschauung yang berarti
persepsi; persepsi tentang dunia.
Pada
dasarnya tiap-tiap peradaban memiliki worldview
sendiri. Dimana worldview sebagai
sebuah konsep pandangan terhadap realitas menjadi landasan berpikir dan panduan
dalam memaknai realitas. Meski menggunakan istilah yang sama, namun pemaknaan
istilah worldview telah melahirkan konsep-konsep tentang worldview yang berbeda-beda. Dilihat dari pengertian dasarnya yang
melandasi alur pikir manusia dalam memahami realitas, maka konsep worldview penting untuk diketahui dari
sejarah lahirnya konsep worldview itu
sendiri.
Istilah
worldview juga dikembangkan dalam
pemikiran Islam. Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang pemikir Islam terkemuka
masa ini, telah menggagas konsep Islamic
Worldview yang diartikan dalam bahasa Melayu sebagai “pandangan alam Islam”
(ru’yatun Islam lil wujud).
Berbeda
dengan tradisi di Barat dimana konsepsi tentang dunia hanya sebatas pengetahuan
manusia yang dapat dijangkau oleh panca indera, Al-Attas menitikberatkan pada
konsep pandangan alam Islam yang tidak hanya melihat realitas alam empirik
sebagai satu-satunya realitas yang ada.
Pandangan
alam Islam merujuk kepada segala sesuatu yang wujud yang menitikberatkan pada
kewujudan Tuhan, keberadaan alam lain diluar realitas alam inderawi semisal
keberadaan alam akhirat. Keberadaan wahyu dalam membentuk worldview Islam
menjadi pembeda dengan konsep worldview
yang dipahami Barat.
David
Naugle, Professor filsafat di Dallas Bapstist University adalah seorang pemikir
yang meneliti tentang worldview. Ia
menulis buku berjudul Worldview: The
History of Concept. Ia menerangkan istilah ini muncul dari Immanuel Kant yang
memperkenalkan istilah Weltanschauung
dalam karyanya berjudul Critique of
Judgement yang terbit tahun 1790. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan
sebuah paragraf mengenai daya persepsi manusia.
Kant
menulis, “jika pikiran manusia tetap untuk dapat berpikir tak terbatas tanpa
kontradiksi, pasti dalam diri manusia memiliki kekuasaan yang melampaui panca
indera (supersensible), dimana ide tentang
noumena tidak dapat diintuisikan, namun dapat dianggap sebagai substrat yang
mendasari sesuatu yang tampak di permukaan, yaitu, intuisi kita tentang dunia (Weltanschauung). Terjemahaan bahasa
Inggris dari karya tersebut menggunakan istilah intuisi tentang dunia (our intuition of the world) untuk
menerjemahkan Weltanschauung.
Konteks
penggunaan kata Weltanschauung oleh
Kant bermakna sesuatu yang sederhana semisal persepsi tentang dunia. Martin
Heidegger mencatat bahwa Kant menggunakan kata Weltanschauung untuk merujuk kepada mundus sensibilis, yaitu intuisi dunia (world-intuition) dalam kontemplasi mengenai dunia melalui panca
indera.
Immanuel
Kant hanya menggunakan terminologi tersebut sekali, dimana penggunaannya
mengindikasikan istilah ini tidak terlalu penting bagi Kant. Namun kemudian terminologi
ini berkembang dengan pesat, dimana maknanya merujuk pada pengertian mengenai
konsepsi intelektual tentang alam semesta dalam perspektif manusia sebagai yang
mengetahui.
Weltanschauung
kemudian diadopsi oleh penerus Kant yang bukan hanya dari kalangan pemikir
Jerman, namun juga oleh para pemikir Eropa. Istilah ini turut menyebar ke
Inggris dan juga Amerika Serikat. Setelah 78 tahun penggunaan terminlologi Weltanschauung dalam Critique of Judgement, istilah ini
diartikan dalam Oxford English Dictionary
dengan kata worldview. Kata tersebut
menjadi istilah yang penting dalam penggunaan kosakata maupun pemikiran dari
kalangan intelek di negara-negara berbahasa Inggris.
Konsep Worldview yang Dikembangkan
Pemikir Kristen Evangelis
Pada
tahun 1890’an James Orr, teolog asal Skotlandia menyebut worldview sebagai sebuah konsep yang sangat dibutuhkan. Ini
kemudian yang menyebabakan James Orr dan Abraham Kuyper menggunakan istilah worldview, karena ketenaran istilahnya,
untuk digunakan dengan pemaknaan versi mereka mengenai Worldview Kristen dalam pendekatan Calvinis.
James
Orr telah merumuskan sebuah konsep worldview
yang digunakan dalam teologi Kristen. Sebagai seorang filsuf sekaligus teolog
yang menulis karyanya dari perspektif Kristen, ia telah merumuskan Worldview Kristen sebagai sebuah konsep
mengenai pandangan Kristen tentang Tuhan dan dunia. Orr sendiri menulis karya
berjudul The Christian View of God and
the World.
Abraham
Kuyper dalam cermahanya mengenai Calvinisme menyampaikan gagasan mengenai
Kristen sebagai framework pemikiran biblikal yang penggunaanya berimplikasi
pada pemikiran di ranah agama, politik, sains, seni untuk dapat berperan dalam
merancang masa depan dunia.
Ia
berharap agar framework tersebut
dapat berdiri sejajar dengan sistem pemikiran manusia lainnya seperti paganisme,
Islam, romanisme dan modernisme. Ia berharap agar gagasannya ini dapat berjalan
efektif dalam pertarungan spiritual dan intelektual guna meraih dominasi
kultural di dunia modern dewasa ini.
Dalam
melacak sejarah konsep pandangan dunia dalam berbagai disiplin ilmu, menarik
untuk mengamati bagaimana deskripsi dasar tersebut mencerminkan pandangan dunia
yang menawarkan deskripsi. Misalnya, idealisme Hegel, theisme Kierkegaard,
historisisme Dilthey, ateisme Nietzsche, fenomenologi Husserl, eksistensialisme
Jasper, ontologisme Heidegger, linguististisme Wittgenstein, dan juga skeptisisme
di dalam pos modernism. Isme mereka
mempengaruhi hipotesis mereka melalui worldview.
Dalam berteori tentang worldview, terdapat
relativitas sosiologis yang membentuk pandangan mereka dalam memahami worldview. Tiap pandangan mengenai worldview sendiri bergantung pada worldview tiap-tiap orang.
Worldview Kristen sebagaimana yang dijelaskan oleh Naugle dan Islamic Worldview Syed Muhammad Naquib Al-Attas terletak pada implikasi dari ajaran agama dan kitab suci yang membentuk kedua jenis worldview tersebut, jika dibandingkan dengan worldview yang lahir dari pendekatan aliran filsafat (isme) tertentu yang secara murni bergantung pada daya nalar akal budi manusia
Dirangkum dari makalah David Naugle
berjudul Worldview: History, Theology,
Implication.
Komentar
Posting Komentar