Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label ekonomi

Kehendak dan Kebahagiaan

Oleh: Jabal Ali Husin Sab Bagi Arthur Schopenhauer, kehendak buta dan ketidaksadaran yang menentukan manusia, dunia dan sejarahnya. Baginya, akal budi manusia dikuasai oleh kehendak. Kehendak ibarat orang kuat yang buta mengangkat orang lumpuh yang dapat melihat. Manusia, dunia dan sejarah digerakkan oleh kehendak buta yang irasional tersebut. Kehendak yang tanpa alasan logis.kehendak irasional yang tak dapat benar-benar dipahami. Hidup manusia mengalami penderitaan karena kehendak yang menuntut untuk dipuaskan tak kunjung mendapat apa yang ia inginkan. Dan kehendak tidak punya tujuan akhir, ia senantiasa menghendaki. Akibatnya selalu ada penderitaan. Pemuasan satu keinginan menuntutnya untuk minta dipuaskan pada keinginan yang lain. Hal tersebut terjadi secara terus menerus hingga tidak ada kepuasan akhir. Hal inilah yang membuat Scopenhauer melihat secara pesimis hakikat kehidupan sebagai sebuah penderitaan yang tak kunjung henti. Ide tentang penderitaan juga...

Air Asia, Kolapsnya Industri Penerbangan dan Masa Depan Pariwisata Paska Pandemi

Jabal Ali Husin Sab* Sektor industri yang paling berdampak dari pandemi covid-19 adalah industri penerbangan. Industri penerbangan mengalami revolusi besar sejak 2000’an dengan hadirnya  low-cost aviation  (maskapai penerbangan bertarif murah). Di wilayah Asia, revolusi industri penerbangan ini diperankan oleh Air Asia. Kehadiran Air Asia telah membuat biaya penerbangan turun drastis. Turunnya harga tiket pesawat berdampak pada meningkatnya mobilitas penumpang pesawat udara. Industri wisata di banyak negara diuntungkan dengan hadirnya Air Asia. Industri wisata di kota-kota di Cina, Thailand, Malaysia dan Indonesia misalnya, mendapatkan keuntungan besar dari kehadiran maskapai Air Asia. Dalam kasus Aceh, Air Asia menjadi penghubung antara Banda Aceh dengan Kuala Lumpur, Malaysia. Dari data wisatawan asing yang berkunjung ke Aceh tiap tahunnya, didominasi oleh wisatawan dari Malaysia. Warga asing lain yang ingin ke Aceh bisa dengan mudah terbang ke Kuala Lumpur lalu ...

Kisah Geliat Produk Lokal Aceh: Saatnya UKM Bangkit

Pengalaman saya berinteraksi dengan seorang mahasiswa pascasarjana dari Korea Selatan sekitar 7 tahun yang lalu, mereka lebih bangga memakai gadget buatan dalam negeri ketimbang ikut trend dunia di saat handphone i-phone berjenama Apple gubahan Steve Jobs merajai pasar telepon genggam di seluruh dunia.  Karena kebanggaan mereka terhadap budaya dalam negeri, juga produk-produk dalam negeri, akhirnya Korea Selatan dengan musik K-Pop nya serta industri perfilman melalui Drakor (drama korea), style fashion anak-anak Gangnam (Beverly Hills nya Seoul atau Menteng nya Seoul) heboh sedunia. Itu semua berawal dari kecenderungan mereka terhadap sesuatu yang berbau dalam negeri  (ata droe) dan bukannya cenderung mencopas gaya Amrik atau cenderung bangga dengan barang impor. Juga dari cerita teman yang kuliah di Cina, mereka di sana hampir semuanya punya Wechat, sebagaimana kita semua di Indonesia punya whatsapp. Bahkan mereka berbelanja, membayar bus, kereta listrik dan trans...