Langsung ke konten utama

Kehendak dan Kebahagiaan

Oleh: Jabal Ali Husin Sab Bagi Arthur Schopenhauer, kehendak buta dan ketidaksadaran yang menentukan manusia, dunia dan sejarahnya. Baginya, akal budi manusia dikuasai oleh kehendak. Kehendak ibarat orang kuat yang buta mengangkat orang lumpuh yang dapat melihat. Manusia, dunia dan sejarah digerakkan oleh kehendak buta yang irasional tersebut. Kehendak yang tanpa alasan logis.kehendak irasional yang tak dapat benar-benar dipahami. Hidup manusia mengalami penderitaan karena kehendak yang menuntut untuk dipuaskan tak kunjung mendapat apa yang ia inginkan. Dan kehendak tidak punya tujuan akhir, ia senantiasa menghendaki. Akibatnya selalu ada penderitaan. Pemuasan satu keinginan menuntutnya untuk minta dipuaskan pada keinginan yang lain. Hal tersebut terjadi secara terus menerus hingga tidak ada kepuasan akhir. Hal inilah yang membuat Scopenhauer melihat secara pesimis hakikat kehidupan sebagai sebuah penderitaan yang tak kunjung henti. Ide tentang penderitaan juga...

Kemenangan Islam di Palestina

Palestina dan Gaza adalah momentum bagi ummat Islam untuk merenungkan makna menjadi muslim. Bercermin dengan kilas balik kisah heroisme sahabat dan tabi'in. Saad bin Abi Waqqash di era khalifah Sayyidina Umar bin Khattab mengalahkan Persia yang jumlah pasukannya mungkin tiga kali lipat pasukan muslim. Sy. Umar berkata kepada Sy. Sa'ad kalau kita bermaksiat kepada Allah maka Allah akan meninggalkan kita dan akan memenangkan siapa yang terkuat, tapi jika kita bertaqwa maka Allah pasti akan memenangkan ummat Islam. 

Kemenangan adalah dengan bersama Allah (shadiq ma'aLLAH). Strategi perang, teknologi, diplomasi dan hal sunnatullah lainnya akan mudah dengan sendirinya apabila kita ummat muslim bersama Allah. Berperang dengan cara Allah, mengisi perdamaian dengan cara Allah, berinteraksi dengan sesama sebagaimana yang diinginkan Allah, mempersatukan ummat, meredam konflik, menghilangkan perselisihan, berdakwah, membantu sesama, semuanya sebagaimana tuntunan Allah swt. 

Inna fatahna laka fathan mubina. Islam telah pun menang. Pertanyaannya apakah kita mau menjadi bagian sebagai pemenang dengan benar-benar menjadi muslim dan mengagungkan Islam? 

Dalam sejarah Islam, kejayaan yang dibarengi dengan kehidupan hedonis yang makin lama makin jauh dari hakikat agama berujung pada hancurnya kekuasaan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Runtuhnya Ummayyah, Abbasiyah dan lenyapnya Islam di Andalusia. 

Allah bisa saja memenangkan sekelompok orang Islam yang ia kehendaki padahal mereka minim secara intelegensi, kemampuan finansial maupun teknologi. Dinasti Mamluk dan Turki Usmani misalnya. Siapa yang sangka bangsa nomaden Turki yang bahkan dulu tak punya negeri mampu menguasai sebagian besar dunia yang sebagiannya wilayah imperium kuno Roma dan sebagian lagi imperium Persia. Allah memenangkan mereka yang Dia kehendaki dan tidak ada makhluq yang mampu mencegah.

Kemenangan ada bersama Allah, maka carilah Allah dalam kesendirianmu dalam sujud, tilawah dan dzikir. Carilah Allah dalam kelompok majelis ilmu. Mereka yang Allah hendaki untuk menang maka Allah menghendaki mereka untuk berilmu terlebih dahulu, atau dekat dan senang dan ilmu dan ahli ilmu. Seperti Wazir Nizamul Muluk masa Sultan Seljuk Alp Arslan yang dikenal dekat dengan dengan Abul Ma'la Al Juwaini juga dengan murid beliau Hujjatul Islam Imam Al Ghazali.

Jika Allah menghendaki seseorang berkuasa namun dalam masa yang sama meletakkan kejahilan dalam dirinya yang membuatnya berlaku tidak adil bahkan zalim dan anti terhadap para ulama, maka mungkin Allah berkehendak orang tersebut menjadi penguasa zalim seperti Namrud atau Fir'aun. Memberikan kekuasaan berbarengan dengan kejahilan adalah istidraj yang merupakan bantuk penghinaan dan makar Allah swt. kepada musuhNya untuk suatu hari dihancurkan sehancur-hancurnya.

Imam Ghazali telah melahirkan generasi didikan Ihya' 'Ulumuddin yang dibawah Salahuddin Al Ayyubi berhasil merebut Jerussalem. Baca kembali Maulid Barzanji untuk membangkitkan cinta dan memperkuat hubungan kita dengan Nabi Muhammad saw. yang suatu masa dahulu, mampu membangkitkan semangat persatuan Islam, cinta dan semangat rela berkorban demi agama. 

Di lauhul mahfudz, di alam azali, Islam telah pun menjadi pemenang..Inna fatahna laka fathan mubina...Tinggal kita tentukan apakah kita memilih masuk kedalam golongan pemenang dengan berjuang untuk menjadi muslim yang hakiki? Atau meninggalkan Allah, ajaran Nabi Muhammad saw. dan hancur bersama dunia yang fana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (Book Review)

Oleh: Jabal Ali Husin Sab Karya bertajuk ' Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ' merupakan salah satu karya penting dalam kajian sejarah peradaban Melayu-Nusantara. Karya ini ditulis oleh ilmuwan terkemuka, Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang disampaikannya dalam pengukuhannya sebagai Professor Bahasa dan Kesusasteraan Melayu di Universiti Kebangsaan Malaysia tahun 1974. Dalam karya ini, Syed Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan bagaimana seharusnya penelitian dan pengkajian sejarah, khususnya terhadap sejarah dan kebudayaan dunia Melayu. Ia juga menjabarkan kekeliruan dari pendapat-pendapat ilmuwan Barat dalam menyimpulkan sejarah Melayu-Nusantara. Beliau menyampaikan bahwa sejarah seyogyanya tidak terlalu fokus pada fakta-fakta mikro yang tidak bermanfaat dalam menggambarkan proyeksi sejarah yang utuh. Kumpulan-kumpulan fakta sejarah tersebut haruslah menggambarkan pandangan alam ( worldview  atau  weltsanchauung ) dari sebuah peradaban. Dunia Melayu telah ...

Renungan Kemerdekaan: Islam di Indonesia

Oleh: Jabal Ali Husin Sab Kita tidak akan merasakan makna kemerdekaan melebihi mereka yang pernah merasakan penjajahan dan penderitaan. Salah satu luka penjajahan yang kesannya berdampak hingga masa kemerdekan, juga negara-negara bekas koloni di dunia ketiga, adalah luka intelektual.  Dimana kita dihadapkan dengan pengetahuan yang memposisikan bangsa-bangsa yang pernah dijajah hanya sebatas sebagai objek pengetahuan. Dicekal untuk berkembang menjadi subjek dalam ilmu pengetahuan. Ketika manusia-manusia terjajah hendak menjadi subjek bagi ilmu pengetahuan, ia dipaksa menerima suatu anggapan bahwa pengetahuan bukanlah suatu yang ada pada kebudayaan bangsanya, melainkan bahwa ilmu pengetahuan adalah tradisi bangsa penjajah.  Penjajah memperkenalkan ilmu pengetahuan, memperkenalkan rasionalisme; kesadaran akal budi, menghilangkan mitos dan takhayul. Penjajahan coba diajarkan juga punya peran dalam upaya untuk mentranformasi, mencerahkan kehidupan bangsa yang terjajah...

 Residu Kolonialisme di Ranah Pendidikan

Oleh: Akhsanul Khalis Dosen di STIA Iskandar Thani Kegenitan intelektual rasa ala Barat di kalangan umat Muslim menjadi pemandangan biasa di ranah sosial saat ini. Kadar intelektualitas dianggap paling maju apabila menggunakan kacamata Barat. Intelektualisme Barat terasa bisa mewakili nilai kebebasan berekspresi dan berpendapat.  Perspektif Barat dijadikan keabsolutan pengetahuan untuk mencapai kebenaran, terkadang cendikiawan Muslim saat ini bangga dengan "sesuatu" dari Barat bahkan berani mengkritisi kodifikasi tauhid dan fiqih yang telah diletakkan secara metodologis oleh ulama.   Mereka protes dengan keadaan di daerahnya yang masih menjaga nilai-nilai keagamaan dan kearifan misalkan: Perempuan berjilbab dianggap sebagai bentuk pemaksaan oleh pemuka agama. Perempuan berjilbab bentuk pembatasan hak pada perempuan. Selain itu, tidak segan juga mereka mengkritik tradisi takzim kepada guru, takzim bagi mereka tidak lebih sebagai ketimpangan relasi. Konsep keadilan dalam Islam...